Barcelona Street Art Series 7, Spain
Hunger is the best sauce in the world ~ Cervantes
Barcelona Street Art Series 7, Spain
Masyarakat Adat Nusantara merayakan Hari Bumi, 22 April 2012 dengan berbagi keberagaman cita rasa dan berjuang untuk Kedaulatan Perut (Pangan).
“Berbicara soal kelestarian dan pemanfaatan sumber daya alam, masyarakat adat punya kualitas!” -Eliza Kissya, Kewang negeri Haruku
Di bawah terik matahari Halmahera, di bumi Hibualamo, masyarakat adat merayakan Hari Bumi Sedunia (22 April 2012) dengan berbagi cita rasa berbagai jenis makanan yang diolah komunitas adat se-Nusantara.
Acara Kuliner Nusantara yang dikemas dengan sederhana ini diawali dengan penjelasan Ibu Jois A.M. Namotemo-Duann kepada wartawan yang sedang mencicipi berbagai hidangan gratis. Juga nampak Sekjen AMAN, Abdon Nababan yang parasnya berkeringat disengat santapan pacco, berbahan utama ikan mairo — sejenis teri basah — yang diracik dengan jeruk nipis dan saus kacang, khas dari Tanah Luwu. Di tengah kerumunan juga hadir bupati Halmahera Utara, Ir. Hein Namotemo, yang bersenda-gurau dengan peserta sambil menikmati makanan kapurung, bubur sagu yang dimasak dengan berbagai jenis sayuran dan ikan, khas Sulawesi Selatan. Sesekali peserta berteriak: Hotuuuuu! Yeeeeee! — salam khas orang Tobelo, tempat berlasungnya acara yang meriah ini.
Di Tobelo, berbagai keanekaragaman nusantara disatukan lewat selera, rasa, dan canda. “Ini sup ikan dari Medan. Rasanya nikmat sekali!” ujar seorang peserta dari komunitas adat Cek Bocek, Lombok. Kuliner Nusantara merupakan salah satu dari serangkaian acara Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) IV yang berlangsung di ibukota kabupaten Halmahera Utara ini.
Dari buku menu yang diterbitkan panitia, terdaftar 45 jenis makanan, serta puluhan jenis makanan khas Halmahera Utara. Berbagai jenis makanan ini disuguhkan agar peserta kongres dan pengunjung mendapat pengalaman keanekaragaman rasa dan lebih mengenali berbagai bahan makanan yang terdapat di berbagai wilayah nusantara yang sangat kaya.
Sebuah pengalaman mewah dan langka ketika kita berkesempatan mencicipi manisan dari Deli yang dibawa langsung dari Medan oleh komunitas adat Rakyat Penunggu. Ikan yang berasal dari laut Halmahera yang kaya dimasak dengan tempoyak khas Sumatera Selatan. Plecing kangkung dari Lombok disantap dengan ubi bakar batu dari Tanibar. Pa’piong, makanan lezat dari Toraja yang dimasak dalam bamboo, dilahap dengan sayur pakis yang dimasak dengan kacang dan sangrai kelapa dari pegunungan Rongkong, Rinding Allo. Dapat dicoba juga pengalaman unik memadukan nasi kebuli Kasepuhan Banten Kidul dengan pecal yang rasanya ‘nendang’ dari komunitas Osing, Banyuwangi, rebung kering tulang iga dari Kalimantan Barat, ikan santan ola-ola dari Maluku, dan lain-lain. Berkah luar biasa bagi perut dan lidah!
Kuliner Nusantara menampilkan berbagai jenis bahan makanan lokal yang berasal dari komunitas adat, yang kini di kota hanya kita kenal sebagai makanan “kampong.” Selain menggunakan makanan pokok beras, terdapat pula berbagai jenis umbi-umbian. Berdasarkan pengamatan Yayasan Kehati yang berbasis di Yogyakarta, di Wamena, Papua, orang Dani mengenal ratusan jenis ubi jalar yang mereka sebut sebagai ipere. Di Jawa Tengah terdapat paling tidak 65 jenis umbi-umbian dan talas. Di pulau Bali terdapat 75 jenis umbi-umbian yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber pangan. Belum lagi jenis makanan berbahan sagu dan jagung. Maka lewat Kuliner Nusantara inilah masyarakat adat ingin berpesan tentang pentingnya diversifikasi pangan untuk menjamin kedaulatan pangan. Hal ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak dan terkait erat dengan isu kedaulatan atas tanah, wilayah, dan sumber daya alam.
Selain tuan rumah dan peserta kongres, hadir pula di acara ini kerabat-kerabat AMAN dari mancanegara. Salah satunya Heidi Arbuckle, Direktur Media Ford Foundation, yang antusias menikmati sagero, tuak yang disadap dari pohon.
“Rasanya seperti bir yang dicampur dengan lemon. Istimewa,” ujar Heidi sambil menikmati pula “nasi jagung” khas Sulawesi Tenggara.
Hadir pula Dian Onno, aktivis socmed dari Jakarta; Bowo Hartanto, blogger nomaden dari Travel Junkie Indonesia; dan penulis Astrid Reza dari Yogyakarta yang berpapasan dengan Mama Aleta Ba’un dari komunitas adat Mollo ketika beliau sedang menikmati ulat sagu khas Pagu, Halmahera Utara.
Kuliner Nusantara sebenarnya memaparkan persoalan yang kini sangat mendasar di Indonesia. Yakni persoalan selera dan citarasa yang terkait erat dengan kebijakan“politik perut” yang diterapkan pemerintah Indonesia. Bayangkan saja, Nusantara merupakan satu entitas keaneragaman budaya, serta berbagai jenis makanan tradisional yang berasal dari berbagai ragam hayatinya konon yang terkaya di dunia, namun Indonesia hanya mengandalkan satu jenis bahan pangan: beras.
Sungguh sebuah ironi. Sebagai negara kepulauan tropis dengan keanekaragaman hayati dan hamparan lautan yang luas, Indonesia kini menjadi negara pengimpor beras terbesar di dunia. Hal ini tidak sebanding dengan jumlah lahan persawahan yang sangat terbatas, yang umumnya hanya terdapat di pulau Sumatera dan Jawa. Kebutuhan beras Indonesia per orang diperkirakan mencapai 149 kg per tahun. Bandingkan dengan negara “maju” yang hanya membutuhkan sekitar 60-an kg/tahun. Belum lagi garam yang “mesti” diimpor pemerintah dari Australia, serta ikan dari Malaysia dan Pakistan. Sementara 60 % kebutuhan kedelai Indonesia didatangkan dari Amerika.
Karena persoalan “perut” merupakan hak setiap orang, maka Kuliner Nusantara ini menjadi semacam gong pengingat sekaligus sebuah inisiatif untuk memahami bahwa kedaulatan pangan merupakan cara agar kebutuhan pangan mestinya ditentukan oleh komunitas masyarakat adat secara mandiri, berdaulat, dan berkelanjutan. Hal ini bisa dicapai jika komunitas adat bisa menentukan sendiri kebijakan pertaniannya, dan tanah mesti diselaraskan dengan kondisi ekosistem, sosial, ekonomi, dan budaya di wilayah masing-masing komunitas adat.
Biarpun pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan Perpes No. 22/2009 tentang Percepatan Keanekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) yang berbasis sumber daya lokal, namun sistem kedaulatan pangan yang dijalankan masyarakat adat secara turun-temurun lewat kearifan leluhur masih terus digerus oleh kebijakan pertanian pemerintah Indonesia yang pro-pasar dan modal.
Inisiatif komunitas adat untuk menegakkan kedaulatan pangannya terkait erat dengan upaya untuk melestarikan dan mempertahankan wilayah adat yang sedang mengalami tantangan yang sangat berat. Berbagai warisan kebijakan hukum dan pembangunan Orde Baru yang salah kaprah menyebabkan terjadinya praktek-praktek perampasan, penghancuran, dan penghilangan atas wilayah adat. Hingga saat ini AMAN mencatat 530 konflik terkait wilayah adat — tanah, hutan, laut — yang masih berlangsung hingga hari ini.
Jika persoalan “kedaulatan perut” tidak bisa diatasi sesegera mungkin, maka kesejahteraan untuk seluruh “bangsa Indonesia” hanya menjadi slogan kosong.
Dari bumi Hibalamo, yang kaya akan berbagai macam sumber pangan selain beras, ikan, dan rempah-rempah yang di masa lalu menjadikan Eropa kaya dan jaya, kami teruskan pesan Kuliner Nusantara, bahwa “kedaulatan perut adalah harga diri manusia.”
Teks: Rahung Nasution Foto: Sigit D Pratama
ASAM PEDAS HIBUALAMO. Masakan asam pedas khas Halmahera ini pantas dicoba dan pas sebagai penambah semangat. Masakan berkuah yang memakai bumbu sederhana ini biasanya untuk memasak ayam, ikan dan daging sapi.
So sexy! One of my tips is to eat only sexy food. Not aphrodisiacs, I mean juicy, vibrant, sweet and succulent food…and therefore fruit :P Wanna be sexy? Eat sexy food! ;)
Sebelum perdagangan maritim dengan melalui rute rempah-rempah (spice route) berkembang semenjak awal abad Masehi, rempah-rempah dari kepulauan Indonesia belum menjadi komoditi perdagangan global. Rempah-rempah yang dikonsumsi oleh bangsa Mesir, Yunani, dan Romawi awal tentu tidak berasal dari kepulauan Indonesia tetapi berasal dari daerah lain seperti lada dari Gujarat (India) dan kayu manis dari Srilangka.
Anak Tobelo, sang penari Cakalele
ARAT SABULUNGAN (Mentawai Ceremony)
an A1 sized cardamom pod in biro (for a college project)
the photo is terrible im sorry ah
(Source: evayzzzz)
SOP IKAN BAUNG. Jenis ikan yang hidup di air tawar ini termasuk marga Hemibagrus dari suku Bagridae (syukur bukan bermarga Nasution dari suku Batak, :p). Jenis ikan ini banyak terdapat di Asia Tenggara. Di Indonesia berada di sungai-sungai di Sumatera dan Kalimantan. Semasa kecil di kampung halaman, ada dua jenis ikan yang mulai langka didapatkan di Batang Angkola, yakni ikan Baung dan ikan Mera. Ikan Baung licin dan bersungut, seperti lele dan patin. Ikan Baung juga memiliki sepasang sirip yang berbisa dan juga sirip yang terdapat di punggungnya. Hati-hati!
Baiklah. Sekarang mari kita masak binatang berbisa, yang dibawa Rhein dari Palangkaraya ini. Seperti biasanya, memasak merupakan sebuah eksprimen, semacam petualangan dan tidak ada panduan yang baku. Tidak ada resep yang pasti karena yang pasti dan absolut hanyalah Vodka!
Untuk satu setengah kilo ikan Baung segar, sepertinya saya memerlukan tiga siung bawang putih, setengah sendok merica, satu potong lengkuas dua kali ukuran jempol, sepotong jahe kira-kira berukuran 3 cm, lima lembar daun jeruk, 6 buah belimbing (jika tidak ada bisa digantikan dengan tiga potong asam kandis kering dan 7 buah tomat ceri) sebatang sereh, tiga biji kemiri dan tentu saja garam secukupnya. Jangan lupa, kita membutuhkan satu buah jeruk nipis.
Karena jenis ikan yang akan kita masak ini berasal dari Kalimantan dan bertetangga dengan Jamaika, maka mari mainkan lagu reggae “Place Too Bloody”, Buju Banton & Anthony Cruz.
Beginilah caranya agar daging ikan segar ini menjadi seksi: tumbuk halus merica. Pisahkan dari cobek, kemudian tumbuk halus resep andalan saya (andaliman, sejumput saja. Di atas tidak disebutkan sebagai rempah yang dibutuhkan, karena rempah ini memang rempah rahasia :p). Setelah andaliman ditumbuk halus, pisahkan. Kini tiba giliran kemiri kita remukkan, sikat sampai halus, dan lagi, lagi, pisahkan! Jangan lupa bumbu-bumbu yang dihaluskan tadi taruh di satu tempat. Sekarang saatnya bawang putih dikeprok, jangan sampai lumat, begitu juga dengan jahe dan lengkuas. Keprok. Batang serehnya dipotong-potong melonjong. Belimbing cukup dibelah dua (jika tidak ada belimbing, tadi kita gantikan dengan asam kandis dan tomat ceri). Daun jeruknya biarkan utuh. Dan mari masukkan semua bumbu ke dalam panci yang berisi air yang mendidih. Airnya dikira-kira saja, asal jangan kebanyakan. Aduk terus hingga bumbu merata dan harumnya keluar. Cicipi dan masukkan garam secukupnya. Jika ada yang kurang, jangan sekali-kali memakai MSG, sebaiknya gunakan kaldu alami. Jika rasa sopnya sudah mantab, sekarang saatnya memasukkan ikan Baung segar yang sudah dilumuri dengan perasan air jeruk nipis, tutup dan biarkan mendidih hingga 5 menit.
Angkat!
Pernah dengar Femi Kuti? Jika belum pernah dengar, Anda sudah ketinggalan puluhan tahun. Sementara akar musik modern berasal dari Afrika. Ayahnya Femi, adalah biangnya Afrobeat, sang Legendaris FELA KUTI. Buruan cari di youtube. Mainkan Femi Kuti “Beng Beng Beng (Da Lata Remix)”, saatnya kita bikin sambal, sejenis Colo-colo Gawat Darurat.
Bahan yang kita butuhkan: 10 buah cabe hijau dipotong kecil-kecil, begitu juga 4 siung bawang merah, dipotong kecil-kecil. Campurkan kedua bahan dasar colo-colo gawat darurat tadi dengan perasan air jeruk nipis (satu buah), satu sendok makan minyak zaitun, satu sendok makan minyak jinten dan garam secukupnya. Aduk hingga merata……
Dan makanlah Sop Ikan Baung tadi beserta dengan Colo-colo Gawat Darurat dengan orang-orang terkasih dalam hidup Anda. Musik pengiringnya, kini terserah Anda! :P